Cerpen"Meraih Mimpi" 1. Meraih Impian Aku terduduk lemas, meringkuk di sudut kamarku, memegangi lutut tak berdosa ini, mencoba 2. menjawabnya,"Kau benar, Nak. Ya, percayalah Nanda, kamu pasti bisa!". Tawaran dari fakultas 3. Malamnyaaku membantubundamenyelesaikanpesanan.Adik-adikku juga
CerpenTentang Perjuangan Meraih Mimpi. Cerpen mengharukan tentang perjuangan seorang anak membahagiakan ibunya bagaimana cara berbakti dan menghormati kedua orang tua ketika masih hidup kisah cerita dalam cerpen mengharukan tentang perjuangan seorang anak membahagiakan ibunya adalah contoh perjuangan meraih sukses demi ibu tercinta.
Cerpen Sumber ilustrasi: Unsplash Kisah seorang gadis yang berjuang demi meraih mimpinya, dia selalu bersemangat belajar dan ingin melanjutkan pendikannya hingga mendapat gelar sarjana, hambatan demi hambatan dia lalui dengan sabar dan tawakal, tidak peduli cemooh ataupun gunjingan orang tentang niatnya yang akan melanjutkan kuliah.
Kamu harus punya mimpi masuk universitas negeri terkemuka. Mimpi kamu harus melampaui kakak-kakakmu. Kalau kamu tidak mau jadi dokter, kamu boleh ambil teknik pertambangan."
Berikutini merupakan kumpulan Cerpen Perjuangan terbaru karya para sahabat cerpenmu yang telah diterbitkan, total diketemukan sebanyak 351 cerita pendek untuk kategori ini. Untuk mencari cerita pendek (Cerpen) berdasarkan kata kunci tertentu, Kamu bisa gunakan Kotak pencarian di bawah ini!
Jadicerpen perjuangan anak untuk ibu ini bukanlah kisah anak durhaka yang menderita kehidupannya tetapi cerita menyentuh hati dan mengharukan tentang perjuangan hidup meraih mimpi untuk ibu bisa memiliki rumah. Dikisah dalam cerpen sedih mengharukan ini, sebuah keluarga yang tidak memiliki tempat tinggal selalu diusir karena tidak bisa bayar
ContohCerpen Perjuangan Meraih Cita Cita Goresan Artikel kali ini akan membahas contoh cerpen motivasi singkat meliputi dari, demi sebuah impian hidup, kisah tukang kayu, dan hidup untuk meraih kesuksesan.
IFalw67. Ilustrasi Puisi Meraih Mimpi. Sumber Pexels Karyme FrancaPuisi meraih mimpi tentu dapat memberikan cerita semangat dan pantang menyerah. Biasanya, puisi jenis ini ditulis bukan hanya untuk diri sendiri melainkan juga orang lain. Banyak sastrawan Indonesia yang menulis bait dari puisi bertema mimpi, misalnya Chairil Anwar, Rivai Apin, dan Asrul Sani. Jadi, tak heran jika banyak ditemukan puisi bertemakan mimpi dari buku-buku sastrawan ternama Puisi Meraih Mimpi yang Menggugah Semangat Ilustrasi Puisi Meraih Mimpi. Sumber Pexels Josh HildPuisi adalah sebuah karya sastra yang berisi pikiran dan kata hati dari penulis. Puisi biasanya menceritakan makna, memotivasi, dan mengkritik sesuatu. Contoh puisi yang memotivasi adalah puisi meraih mimpi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI, puisi adalah sastra yang terikat dengan mantra, irama, dan bait atau rima. Puisi meraih mimpi lekat dengan renungan, dan pernyataan bahwa perjuangan harus selalu dilakukan meski dalam banyaknya rintangan di kehidupan. 1. KEJAR Aku mungkin seseorang yang lemah dan terduduk lesu di depan meja belajar Mataku nanar menatap bayangan buku dengan penuhnya coretan tinta Bolehkah ku katakan bahwa aku sedang lelah? Lelah dengan banyaknya kasus dalam diri yang tidak bisa kusadari Namun sekali terlintas wajah bahagia mereka, aku berpikir untuk tidak bisa seperti ini Aku harus kembali bangkit dalam kesusahan pikiran ini Ada banyak harapan yang harus terpenuhi, banggakan mereka dan kejar mimpimu Itulah yang terlintas di pikiranku saat ini. 2. Diri Sendiri Berapa banyak harapan yang saat ini ada dipundakku?Berapa banyak orang yang harus tersenyum dengan prestasiku?Dan, berapa banyak pula kegagalan yang harus ku hadapi? Sampai kapan akan begini ? Itulah pertanyaanku Tidak ada yang menjawab, karena hal ini memang hanya bisa kutemukan sendiri Pikiranku nanar, namun ada bisikan yang menyapa Semangat dan jangan menyerah, itulah katanya Lantas aku harus bagaimana? Ku telusuri bisikan itu Kemudian aku sadar, bahwa yang bisa mengubah putus asaku, adalah diriku sendiri 3. Merajut Asa Kembali Hari ini, ku rajut kembali asa yang sempat terbengkalai Ku yakinkan pada diri sendiri, bahwa matahari pasti akan menyapa di tengah langit yang mendung Matahari akan muncul kembali setelah hujan Tidak salah bila mimpi ini masih ke genggam, karena aku yakin Apa yang ku inginkan akan terwujud dengan sempurna pada waktu yang tepat 4. Tak Akan Menyerah Terlepas dari banyaknya masalah yang menghampiri dan membuatku jatuh Aku yakin ada keajaiban dan takdir yang bisa di ubah Aku tak takut, karena nenek moyangku adalah si otot kawat tulang besi Masalah apapun, dapat ku hadapi dan tidak akan menggentarkan mimpi ku Bumi selalu berputar dalam porosnya, yang ku butuhkan hanya keyakinan dan semangat Aku tak akan menyerah, dalam menggapai mimpi selama sanggup dan masih bernafas. Itulah kumpulan puisi meraih mimpi yang bisa dijadikan bahan renungan dan refleksi diri. Mimpi mungkin memang bukan sesuatu yang diraih dengan instan dan perlu perjuangan. Namun setiap orang pasti bisa meraih mimpinya jika yakin dengan kemampuan diri sendiri. AIN
Cerpen Karangan Oki AnggaraKategori Cerpen Inspiratif, Cerpen Pendidikan, Cerpen Pengalaman Pribadi Lolos moderasi pada 20 March 2015 Perjuanganku dimulai sejak masuknya XII. Kenapa? Semenjak masuk SMA, tidak mempunyai pikiran sama sekali untuk kuliah. Sangat buta akan dunia perkuliahan. Bahkan, jurusan-jurusan yang ada di Universitas pun aku tak tahu. Tadinya aku ingin melanjutkan pendidikan ke SMK, tapi karena orangtuaku masih belum mengizinkan ku bersekolah jauh-jauh, akhirnya orangtuaku memilihkan untuk melanjutkan ke SMA. Aku ini anak semata wayang. Dari SD, SMP, hingga SMA, aku bersekolah di Kecamatan yang sama. Bukan hanya itu, lulusan sekolah aku hampir 70 persen melanjutkan kerja. Dan mungkin 30 persen yang melanjutkan kuliah. Sempat terpikir olehku untuk melanjutkan kerja saja dahulu. Aku berasal dari keluarga sederhana, dari mana orangtuaku membiayaiku untuk melanjutkan kuliah?, sungguh, itu pemikiran klasik. Pikiranku masih pendek sekali waktu itu. Tapi, niat dan pikiran itu terbantahkan oleh guru geografi. Di sela waktu belajar, saat itu masih kelas XI. dia pernah berkata “Kalian itu harus melanjutkan kuliah. Jangan tidak melanjutkan kuliah. Kalian jangan memikirkan masalah biaya terlebih dahulu, sekarang itu ada beasiswa yang namanya BidikMisi. Kalo kamu tidak mampu mempunyai biaya kuliah, kamu akan mendapatkan beasiswa asalkan kamu masuk Universitas tersebut. Tak hanya itu, kamu akan mendapatkan uang saku perbulannya” Kata-kata pengantar nan sederhana itu, yang terus mengingatkanku agar aku harus tetap kuliah. Aku termasuk siswa yang aktif di sekolah kak jadi aku tak pernah berhenti untuk terus mencari informasi. Itu bekalku yang pertama yang menghantarkanku untuk meraih mimpiku. Yang kedua, aku ini senag bermain Sosial Media juga. Banyak infomasi seputar kuliah yang aku dapat dari Sosial Media salah satunya dari info_SNMPTN dan infomasukPTN. Saat itu kakak kelas retweet tentang SNMPTN. Rasa penasaran muncul, dan akhirnya bekepo ria. Alhasil, aku tahu kalo SNMPTN ialah salah satu jalur seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri. Berbagai informasi telahku dapat. Dari kedua bekal tersebut, hati pun mulai bulat. Kalau aku harus melanjutkan kuliah!! Tak terasa, waktu terus berjalan dan mengantarkanku memasuki pintu gerbang kelas XII. Orang bilang, pintu awal sebuah karier. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk memperbaiki nilai raport, di semester ini nilai raport harus maksimal, dan berharap agar bisa lolos SNMPTN Jalur Undangan. Tersadar, bahwa nilai raport semester satu dan dua tidaklah bagus bahkan bisa dikatakan biasa aja. Walaupun ada sedikit rasa percaya diri karena di semester tiga dan empat menempati ranking 2 dan 1 di kelas, tapi hal itu tidak menjamin bisa lolosnya SNMPTN. Apalagi penilaian SNMPTN dilihat melalu berbagai aspek serta indeks sekolah. Di awal semester 5 ini, aku mengikuti pelajaran dengan baik dan terus bersungguh-sungguh. Persiapan Ujian Nasional dan SBMPTN Jalur Tes Tulis ku tata agar se-seimbang mungkin. Saat itu, banyak teman-teman yang sudah mulai mnegikuti bimbingan belajar di luar sekolah untuk persiapan Ujian Nasional, karena di sekolah biasanya mengadakan bimbel persiapan Ujian Nasional di awal bulan November. Sempat minder karena banyak temen-temen yang mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah, aku ingin seperti mereka agar persiapanku lebih matang menghadapi Ujian Nasional. Mencoba meminta brosur ke salah satu tempat bimbingan belajar, dan memberanikan diri untuk berkata kepada ibu, “mah, mau ikut bimbingan belajar persiapan Ujian Nasional di luar sekolah”. Tapi… Apalah daya, ibuku tidak mengizinkan untuk mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah. Memang, rincian biayanya cukup besar bagi kelurga kami. Dan akhirnya, keinginan itu hanya menjadi angan semata. Berbagai rencana dan strategi ku tata sedemikian rapih untuk menghadapi Ujian Nasional dan SBMPTN. Aku membuat target, kalau bulan agustus ini, aku harus mempunyai buku latihan dan soal-soal SBMPTN. Aku selalu menyisihkan uang jajan sekolah untuk membeli buku itu. Tidak mau mererepotkan orangtua. Tapi, Uang yang ku kumpulkan tak pernah mencukupi untuk membeli buku itu, karena banyaknya tugas-tugas dari sekolah sehingga uang yang terkumpul dengan terpaksa aku gunakan. Aku tak pernah meminta uang kepada ibuku untuk mengerjakan tugas, kalaupun harus meminta itu jarang-jarang karena uang simpananku tak mencukupi. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Bulan oktober pun tiba. Alhamdulillah. Aku mendapat infomarsi, kalau FISIP UI mengadakan acara Try Out SBMTPN seJabodetabek dan Bandung. Kucoba untuk mengajak teman-temanku, tapi sayang. Respon mereka tak selalu bagus, ada yang bilang “yaelah ki, masih lama. Fokus UN aja dulu! Lebay lu ah” jleb deh. Ada yang mengabaikan perkataanku karena mereka memang tidak minat untuk melanjutkan kuliah. Tapi, aku respon dengan baik. Aku bilang kalau persiapan kita lebih lama pasti kan lebih matang. Persiapan menjelang Try Out terus dilakukan, terus berlatih dengan buku yang baru ku beli itu. Aku latihan setiap pulang sekolah, dan sebelum tidur. Dan tetap menyisihkan uang untuk bisa mengikuti Try Out tersebut tanpa menambah beban orangtua. Enggan rasanya untuk menadahkan tangan, ketika aku sedang berjuang untuk membahagiakan mereka. Waktu Try Out pun tiba, antara senang dan deg-degan bisa mengikuti Try Out tersebut. Banyak pengalaman yang didapat, semakin tahu bagaimana ketatnya persaingan SBMPTN nanti. Dan hasilnya? aku selalu bersyukur atas segala apa yang ku dapat. Berada di urutan ke 333 dari 1500 lebih peserta seJabodetabek dan Bandung. Temanku yang mengikuti Try Out juga ternyata hebat-hebat! Si K diperingkat ke 249. Si D peringkat ke 429, tetapi si A ada diperingkat 1300. Tapi hasil itu bukanlah suatu acuan, itu hanya seJabodetabek dan Bandung, bukan seNasional! Dan… Bulan desember tiba. Alhamdulillah, aku mendapat buku gratis latihan soal-soal SBMPTN dari kak Riris. Dia seorang mahasiswa di salah satu PTN di Jawa Barat, dia seorang motivator terutama untuk kelas XII. Selalu memberikan nasihat, bimbingan, dan pengalaman dia seputar SBMPTN. Banyak sekali ilmu yang didapat darinya. Sebelumnya, dia mengadakan kuis yang berhadiah buku latihan soal-soal SBMPTN. Dan aku berhasil memenangkan kuis tersebut dengan seorang perempuan asal Jember. Aku semakin percaya diri untuk menembus pintu gerbang PTN itu. Di bulan ini juga, Alhamdulillah. Aku berhasil melukiskan senyuman terindah pada ibuku. Saat itu, hari ibu bertepatan dengan pembagian raport semester ganjil. Semua orangtua diundang ke sekolah, sebelum pembagian raport ada pengarahan dari Kepala Sekolah, semua orangtua dikumpulkan dalam satu tempat, dan dipenghujung acara tersebut, diumumkan siswa-siswi terbaik kelas dan jurusan. Alhamdulillaah, Puji syukur. Aku mendapat predikat siswa tebaik di kelas, dan terbaik di XII IPS. Sungguh, tak menyangka akan hal ini. Senang rasanya, dipanggil untuk naik ke atas panggung dan mengambil piagam penghargaan bersama ibu tersayang. Di hari ibu, aku bisa memberikan hadiah yang terbaik untuk ibuku. Dan saat itulah aku merasakan bahwa “Kerja Keras itu Tak Akan Mengkhianati” Sesampainya sampai di rumah ibu berbicara padaku “pertahankan terus prestasimu nak! Ibu bangga kepadamu. Semangat terus untuk menggapai cita-cita mu. Kamu tak usah memikirkan biaya, ibu dan bapak akan berusaha terus mencari uang” Aku diam tertegun, dan sedih. Aku harus bisa menggapai mimpi-mimpiku. Aku harus bisa terus membuat orangtuaku bangga. Aku harus membuat mereka bahagia, sekarang dan sampai mereka tua nanti. Tahun 2013 pun datang. Jeng jeng! *drum roll* Persiapan dan persiapan terus dilakukan. Latihan soal, mengikuti Try Out di luar, doa dan ibadah terus dilakukan. Di awal tahun ini, aku terus memotivasi diriku sendiri. Ku tulis semua mimpi-mimpiku di secarik kertas kecil lalu ku tempelkan di papan mimpi di kamar, agar di setiap bangun tidur, aku terus bersemangat untuk meraih mimpi-mimpi tersebut. Berbagai quote yang ku dapat, aku salin lalu temple di papan mimpi. Di awal tahun, antara bulan januari – februari. Aku masih seimbangkan amunisi untuk Ujian Nasional dan SBMPTN. Namun, memasuki bulan maret – april aku hanya fokus kepada persiapan Ujian Nasional. Kenapa? Karena saat itu aku mendapatkan informasi dari Kemdikbud kalau nilai Ujian Nasional menjadi tiket untuk masuk PTN Jalur SNMPTN. Bagaimana ini? Akhirnya ku putuskan untuk fokus Ujian Nasional. Ujian Nasional tiba. Inilah perjuangan awalku untuk menggapai mimpi-mimpiku. Aku siap menghadapi Ujian Nasional, meskipun rasa deg-degan terus menyelimuti. Banya godaan di Ujian Nasional sendiri, kunci misalnya. Tapi aku tak pernah tergiur. 20 paket soal. Ngapain? Mending fokus. Kalo Ujian Nasional ciut, bagaimana SBMPTN? Aku tetap berpegang teguh pada pendirian. Sia-sisalah perjuanganku salma ini kalau harus dinodai dengan sebuah kunci. “UN itu bagaikan Cacing, dan SBMPTN itu bagaikan Ular” Ujian Nasional berlalu, langsung move on. Aku langsung sigap berpaling kepada SBMPTN, karena sudah lama dia ku tinggalkan. Nah, disini. Setelah Ujian Nasional, kegalauan itu muncul lagi. Lagi, brosur-brosur bimbingan belajar persiapan SBM itu bertebaran dimana-mana. Banyak juga teman-temanku yang ikut bimbingan belajar. Aku iri, Aku juga ingin mengikuti bimbingan belajar seperti mereka. Aku coba memberanikan diri kembali untuk berbicara kepada ibu ku. Dan, seperti biasanya, orang tuaku tidak mengizinkan dengan alasannya seperti biasa. “sekarang kamu coba belajar sendiri aja dulu nak. “lahaulawalla”. Ibu sama bapak ada uang juga untuk persiapan kamu ke Bandung. Belum ongkos, dan biaya hidupkamu disana.” Sempat bingung. Dalam perkataan itu, ada makna. Bahwa ibu percaya, kalau Aku pasti akan ke Bandung. Dan menuntut ilmu disana. Orangtua suka memikirkan apa yang tak pernah terpikirkan oleh ankanya. Akhirnya, ku coba belajar sendiri. Dengan buku-buku soal yang ku punya. Sempat bosan, karena belajar sendiri itu tidaklah selalu menyenangkan. Apalagi disaat ada materi yang tak dimengerti. Perasaan ingin mengikuti bimbel persiapan SBM itu pun muncul lagi. Aku berputar pikiran, bagaimana caranya aku harus bisa mengikuti bimbingan belajar tanpa membebani orangtua. Terbesit dalam hati, ingin menjual Hand Phone kesayangan untuk dijual dan uangnya untuk tambahan biaya bimbingan belajar. Tapi aku tak berani mengambil langkah itu begitu saja. Aku meminta izin terlebih dahulu pada ibu. Karena bagaimanapun handpone itu pemberian dia. Sayang, ibu tak mengizinkan. Dia malah memarahiku. Mungkin ibu kesal kepadaku, karena aku terlalu “memaksa”. Niat itu aku urungkan. Aku terus belajar sendiri. Kenapa tidak meminta bantuan sama temanmu yang ngerti? Sudah ku coba, sebelumnya selalu meminta diajari dia. Bahkan sebelum masa-masa persiapan Ujian Nasional. Entah mungkin karena dia bosan. Setiap aku menghubungi dia, tak pernah dia merespon. Perjuangan ini tak boleh berhenti sampai disini. Aku terus belajar sendiri. Aku harus bisa memahami materi-materi ini tanpa penjelasan dari orang lain. Tapi hanya dari buku ini sendiri. Alhamdulillah, materi demi materi pun mulai aku pahami. Allah selalu memberi kemudahan bagi hambanya yang mau berusaha. Tapi, tak selalu materi ku pahami dengan baik. Matematika Dasar. Aku mengalami kesulitan di materi itu. Aku terus mancari cara. Aku coba untuk menghubungi guru matematika di sekolah, dan memintanya untuk mengajari ku. Awalnya, dia mengenakan tarif dan cukup besar harganya. Sambil becanda di sms, aku meminta diskon. Dan membujuknya sambil mambicarakan hal-hal ringan. Akhirnya dia mau mengajariku secara suka rela. Setiap tiga hari dalam seminggu aku mengunjungi rumahnya, dengan waktu yang tidak ditentukan. Kadang dua hari seminggu, atau satu hari seminggu. Ya, aku bimbel mengikuti rutinitas dia. Kalau dia sempat dia mengajariku, kalau dia sibuk bagaimana lagi, aku harus kembali belajar sendiri. Tak terasa pengumuman Ujian Nasional tiba, deg-degan dengan hasil yang akan kulihat. Tapi apapun itu, itulah perjuangan dan kemampuanku. Nilai Ujian Nasional ku kecil. Bingung, ini bagaimana? Tapi ya sudahlah. Semuanya sudah berlalu. Yang terpenting fokus pada cita-cita. Jelang beberapa setelah pengumuman Ujian Nasional. Pengumuman SNMPTN tiba. Rasa deg-degan itu muncul lagi. Aku berharap aku bisa lolos seleksi ini. Antara percaya diri dan tidak. Aku terus berdoa dan beribadah, aku mempunyai nazar. Aku harus khatam qur’an sebelum pengumuman. Di tiap seminggu menuju pengumuman, beberapa hari lagi menuju pengumuman aku selalu bicara pada ibuku. Aku selalu minta doa dia. Hari H pengumuman. Pengumuman itu dimajukan. Hari senin. Saat itu aku diam di rumah dan terus berdoa, taaapiii. Temanku tiba-tiba datang ke rumah. Ngapain? Ya. Mereka mengajak main. Kemarinnya mereka memang sudah telpon aku. Tapi aku menolak ajakan itu. Entah kenapa tiba-tiba meraka datang ke rumah. Mereka bersikukuh mengajakku main. Aku tolak terus, bahkan kami sempat berdebat di rumahku. Memang kami sudah lama tak bertemu, mereka mengajakku main bukan ke mall atau semacamnya. Mereka ngajakku ke tempat air terjun Mereka sudah berkuliah dan kerja, ada yang mau UTS esok harinya, dia bilang mau refreshing dulu katanya. Tapi tidak pas dengan kondisiku. Bingung, mereka sudah ke rumah. Kalau aku tolak mereka, pasti perasaan mereka sangatlah tak nyaman. Disaat pengumuman seperti ini, tidak mau membuat orang lain kesal kepadaku. Tapi aku tak mau bersenang-senang sebelum ada kepastian. Dengan berat hati, aku ikut dengan mereka. Di sepanjang jalan dan di tempat tujuan, aku merasa tak tenang, terus merengek dan meminta pulang lebih cepat. Akhirnya, kami pulang. Dan, hujan pun datang!. Kami basah kuyup. Sampai maghrib aku masih di perjalanan. Sampai di rumah. Aku masuk angin, dan saat itu sedang shaum. Disaat kondisi badan seperti ini, belum melihat hasil pengumuman. Aku terus bicara pada ibuku, kalau aku deg-degan, lalu ibu menyuruhku untuk mandi, sholat, lalu makan dulu sebelum melihat hasil pengumuman. Nazarku sudah terpenuhi. Alhamdulillah aku sudah khatam sebelum pengumuman. Setelah semuanya selesai. Aku duduk di ruang tengah, bersiap-siap untuk melihat pengumuman. Dan ingin segera membalas sms teman-teman yang menanyakan lolos atau tidak. Mulai membuka hasil pengumuman.. Bismillah.. Seketika tulisan kata “MAAF” dalam kotak merah itu muncul. Diam tepaku. “oki gagal bu”. Masih diam menatap layar itu. Tiba-tiba, ibuku merangkulku, dia menangis dan memelukku. “ya sudah, kamu harus sabar, ini yang tebaik untuk kamu. Ibu selalu melihat usaha-usaha mu, tapi kali ini bukan rezeki mu” dengan nada yang tesedu-sedu itu, ibu berbicara padaku sambil memelukku. Hanya bisa terdiam, seketika air mata ikut mengalir. Tak tahan melihat ibu sedih, tak tahan melihat ibu mengangis. “Yaelah, ngapain dibawa sedih. Udah gak usah nangis. Perjalanan masih panjang”. Celetuk bibi. Tak mau berlarut-larut terus dalam kesedihan. Harus terus berjuang untuk meraih cita-citaku, kembali fokus untuk mempersiapkan diri menghadapi SBMPTN. Karena gagal dalam SNMPTN bukanlah akhir dari segalanya!. Allah ingin melihat kerja kerasku yang lebih. Aku terus membuat perubahan. Waktu belajar ku tambah lagi dan lebih ekstra, serta doa dan ibadah harus dan perbanyakku lakukan. Dan… Pengumuman SBMPTN pun tiba. Jeng-jeng! *drum roll* Di pengumuman ini, aku tidak lagi melakukan apa yang pernah ku lakukan disaat menjelang pengumuman SNMPTN. Karena ku yakin, kalau ingin mendapatkan hasil yang beda. Kita harus melakukan hal yang berbeda. Aku tak selalu bicara pada ibuku lagi “bu, 1 minggu lagi pengumuman. Deg-gedan ni” “bu, 1 hari lagi pengumuman. Deg-gedan”. Tidak! Ku coba pendam rasa ini dalam hati, dan menenangkannya sendiri. Kalau terus bicara pada ibuku, pasti beban pikiran ibu bertambah. Aku ini kan niatnya ingin membuat dia bahagia. Lalu, mirip hampir mirip, lagi temanku mengajakku ke mall. Meminta antar untuk membeli jam katanya, tapi untuk yang ini ku tolak dengan biak-baik. Dan, beberapa jam menuju pengumuman. Ibu minta anter ke pasar, sore waktu itu. Aku mengantarkan ibuku terlebih dahulu, twitter sudah ramai kalau pengumuman sudah bisa di akses. Bunyi sms juga mulai datang satu-persatu menanyakan hasil penngumuman. Sempat ingin buka pengumuman di pasar, tapi. Ah! Kondisinya tak enak. Masa buka pengumaman di pasar Sesampainya di rumah, langsung bersiap-siap. Sudah berada di depan layar sendiri, ibu di kamar mandi sedang mencuci, bibi belum pulang kerja, sama bapak juga. Dengan rasa deg-degan, dan bismillah, ku buka web itu. Dan… Segala Puji Bagi “SELAMAT” itu muncul di kotak berwarna biru, bukan kotak berwarna merah lagi. Seketika itu aku langsung diam, tak percaya, aku langsung berteriak pada ibuku yang di kamar mandi “bu, aku lolos bu. Aku lolos” dan air mata itu, mengalir dengan sendirinya keluar. Aku langsung menghampiri ibu ke kamar mandi. Ibu kaget mungkin, melihatku menangis sambil berkata yang kurang jelas. Tapi akhirnya ibu mengerti kalau aku lolos SBMPTN. Pendidikan Sosiologi – Universitas Penididikan Indonesia. Aku langsung merangkul ibuku, dengan penuh air kebahagiaan. “iya Alhamdulillah, ibu seneng mendengarnya”. “iya bu, Alhamdulillah usahaku selama ini tidak sia-sia bu” “iya, kamu bangun setiap pagi, puasa, pasti kamu mempunyai maksud, Allah mendengarkan doamu nak” Peristiwa itu, takkan pernah terlupakan. Yang tadinya ibu merangkulku disaat ku gagal. Kini aku merangkul ibuku disaat aku berhasil. Cerpen Karangan Oki Anggara Blog Oki Anggara lahir di Bogor, Jawa Oktober 1995. Kegemarannya menulis cerita mulai tumbuh ketika mulai duduk di bangku kuliahnya. di Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, UPI, Bandung. Pendidikan formal tingkat menengah dan atasnya diselesaikan di SMP Negeri 2 Citeureup 2010 dan SMA Negeri 1 Citeureup 2013. Saat ini penulis masih menjalankan studinya di Jurusan Pendidikan Sosiologi, UPI, Bandung. Cerpen Perjuanganku Untuk Menggapai Mimpiku merupakan cerita pendek karangan Oki Anggara, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Share ke Facebook Twitter WhatsApp " Baca Juga Cerpen Lainnya! " SPK Depkes Makassar in Memorial Oleh Afif Natsir Gema suara adzan subuh seakan mengusik sang pemimpi yang tengah lelap dalam dekapan selimut di atas tilam yang tak pernah jenuh menahan beban yang tak pernah absen menemani tuan Makna Sebuah Piala Oleh Arizqa Shafa Salsabila “Dasar bocah b*ngsat!!” Teriak pria bertubuh besar itu. Matanya yang sangat tajam dan terkesan sangar mampu membuat bulu romaku merinding ketika sekilas ditatapnya. Tak bisa ku bayangkan seperti apa Kepercayaan Untuk Cinta Kita Oleh Jovian Caesar Kringgg… Kringgg… Kringgg… alarm hanphoneku berbunyi, ohhh no!! Sudah jam Aku harus bergegas menuju kampusku yang jaraknya cukup jauh itu, dari Tangerang menuju Jakarta Selatan, hari ini ada Disiplin Itu Penting Untuk Kehidupan Oleh Novita Indriyani Hai teman-teman, namaku Siska Wati aku anak kedua dari tiga bersaudara, umurku sekarang 21 tahun, kebiasaan burukku terjadi ketika aku masih duduk di kelas 3 SMA, umurku waktu itu Burung Beo Sang Kyai Oleh Miftahul Anam Kullu nafsin dzaiqotul maut. Siapa yang tidak mengenal Michel Jackson, artis ternama berkulit hitam itu. Dulu, sebelum masuk pesantren aku sangat mengidolakannya. Apalagi setelah operasi plastik, wajahnya menjadi semakin “Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?” "Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan loh, bagaimana dengan kamu?"
Cerpen Karangan Sri YantiKategori Cerpen Inspiratif, Cerpen Mengharukan, Cerpen Perjuangan Lolos moderasi pada 29 March 2017 Hujan membungkus desa. Awan gelap menggumpal-gumpal, petir sekali dua menyambar. Dingin. Kurapatkan selimut menutupi tubuh sembari menatap hujan lewat jendela. Deras. Hujan membasahi teras depan, pohon-pohon, jalan depan, bunga-bunga, toko-toko, belum lagi sekolah yang esok paginya akan becek, licin, yang jika tidak hati-hati bisa terpeleset. Minggu sore yang dihiasi rintihan hujan. Mataku redup menatap ke luar, sedari tadi aku menangis. Dan mungkin air mataku telah habis kutumpahkan, hanya sendu yang tersisa. Tadi habis ashar. Aku dan orangtuaku membicarakan tentang melanjutkan kuliah. Kami bukan orang yang mampu. Bukan orang yang bisa membayar uang kuliah yang bisa mencapai puluhan juta. Ayahku hanya seorang sopir, dan ibuku penjual kue. Apalah dayaku yang tidak bisa melanjutkan kuliah. Hanya menangis menatap hujan. Desa kami terpencil, terluar dan tertinggal. Bukan mudah mencari ilmu yang banyak di sini. Kami para siswa yang miskin buku dan pengetahuan. Harga buku mahal sekali, dan di desa kecil kami tidak ada toko buku, paling hanya kamus yang dijual. Itu saja. Tidak ada novel, komik, majalah, buku pengetahuan yang lebih mendalam, buku lulus UN, tidak ada. Di sekolah, Fasilitas buku kami belum lengkap. Buku-buku yang ada bisa terhitung lama, dan banyak yang berdebu. Ruang perpus yang tidak leluasa. Bagaimana kami memperoleh ilmu yang lebih? Lalu jika ingin kuliah harus membayar mahal sekali. Atau jalur kuliah lain dengan mengemban gelar anak berprestasi’. Bisa apa aku? Siswi sederhana yang miskin ilmu. Jangankan hal yang lebih sulit dari itu, mendapatkan nilai un standar saja hanya angan-angan. Aku hanya bisa berdoa, dan berusaha. Dan itu adalah hal terbaiknya, dalam langit-langit doa, aku punya harapan. Aku punya mimpi yang selalu kuucapkan sehabis sholat. Setidaknya aku percaya mukjizat, keajaiban, yang datangnya dari ALLAH. Usaha selalu berbanding lurus dengan hasil, aku percaya itu. Selama aku berusaha, selama aku giat, ada jalan. Aku harus bisa. Just do it. Senin pagi yang becek. Mendung masih tergantung di langit, sisa-sisa hujan kemarin sore. Namun sekolah kami tetap melaksanakan upacara bendera. Tidak ada hari Senin tanpa upacara, itulah sekilas motonya. Maka mulai hari ini, saat sang bendera merah putih berkibar gagah di langit. Aku memulai habit baruku. Mulai merangkai mimpi kecilku, memompa semangat dalam hati, berusaha sekuat tenaga, aku harus mencari pelangi setelah gelapnya mendung. Aku harus bisa! Aku harus kuliah, mendapatkan pendidikan yang lebih baik, meraih janji kehidupan yang bermutu. Setelah ini aku berusaha sekuat tenaga, belajar lebih giat. Tak kulewatkan satu mata pelajaran pun, jika aku tak mengerti bertanya pada guru, meminjam buku dari berbagai sumber, mencari informasi dari internet, belajar sampai larut, dan bangun lebih awal untuk belajar. Tak peduli jenuh yang kurasakan saat belajar, meskipun kantuk yang menyergapku ketika larut dan subuh. Aku percaya pada mimpiku. Mustahil? Ah mereka yang mengatakan itu takan pernah mengerti rasanya berusaha. Aku selalu ingat pesan moral yang satu ini “Bermimpilah setinggi langit maka saat kau jatuh, kau akan jatuh di antara bintang-bintang”. Aku menanamkan pesan ini dalam sekali, jauh di dasar hatiku. Aku merangkai mimpi, dan berusaha semampuku. Aku menangis, namun tetap membaca. Hatiku berat dan jenuh belajar, aku tetap berfikir. Tak ada waktu yang kusia-siakan bahkan saat membantu ibuku menjual kue, aku mengerjakan soal-soal. Aku berusaha. Dan tibalah saat pengumuman kelulusan. Aku gugup, gemetar, mual, entahlah. Ini saat yang mendebarkan dalam hidupku. Saat-saat menentukan. Apakah aku lulus atau tidak, apakah nilaiku memenuhi beasiswa atau tidak, aku tidak tahu. Aku telah berusaha semampuku, dan aku pasrahkan semua hasil usaha itu. Dan jika ternyata tidak sesuai harapan, ini mungkin bukan jalanku. Aku harus mengubur mimpi itu, dan mencari jalan lain. Merangkai masa depan yang berbeda. Aku menatap lurus ke depan. “…Rima Asya dinyatakan…” Detik-detik yang lama sekali. Aku pasrah pada hasilnya. Apapun itu. “… Tidak lulus!!” Cairan bening itu menggenang, dan mengalir deras di pipi. Aku terisak. Suaraku parau di tengah teman-teman yang mulai memelukku prihatin. Inikah bintang? Meskipun aku ikhlas, pasrah dengan keadaan, tetap saja terluka. Aku ikhlas.. Namun air mataku tak berhenti mengalir. Aku kuat.. Namu hatiku terasa sakit sekali. Aku pasrah.. Namun rasa kecewa itu ada. Nama teman-teman lain masih disebutkan. Menggema tidak jelas di pendengaranku, lidahku Kelu tak sanggup memberi selamat, atau menguatkan yang lain. Aku tak sanggup tersenyum saat ini. Sakit. Dan saat penutupan, ketika kepala sekolah menyampaikan pidatonya. Dia tersenyum padaku. Aku hanya menatap sendu. Wajahku tak jelas dengan tangis yang sedari tadi mengalir. “… Adapun yang ingin bapak sampaikan adalah, tetaplah berkepribadian yang baik, berusaha sekuat tenaga, … Dan bapak bangga sekali tahun ini, salah satu siswa kita meraih nilai yang sangat baik saat ujian nasional, nilai yang sangat memuaskan, sangat membanggakan.. Dan saking bangganya bapak, serta guru-guru, kami memutuskan menjahili siswa tersebut. Dia adalah Rima Asya dinyatakan lulus dengan nilai rata-rata Riuh menggema satu sekolahan, tepuk tangan ramai bak dengungan lebah, namaku dielu-elu kan. Aku yang antara sadar dan tidak hanya menatap bingung. Tidak percaya. “Selamat yah ri!” Kata mereka. Aku di peluk, air mata ku mengalir. Dan aku sadar ini semua berkat karunia ALLAH semata. Aku bersujud di tanah. Astaga, ini lelucon yang mengharukan dalam hidupku. Terima kasih kepala sekolah. Terima kasih guru-guru. Dan terima kasih sahabat-sahabatku tercinta. Kami semua tenggelam dalam euforia kelulusan. Semarak sepanjang jalan, meramaikan. Dan tentu saja aku bahagia menyerahkan tiket beasiswa pada orangtuaku. Anak perempuannya ini, berhasil bersinar di antara bintang-bintang. Cerpen Karangan Sri Yanti Cerpen Mimpi merupakan cerita pendek karangan Sri Yanti, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Share ke Facebook Twitter WhatsApp " Baca Juga Cerpen Lainnya! " Kolak Pelangi dan Sholat Dhuha Oleh Farhan Ramadhan Ramadhan pasti identik dengan pasar dadakan. Di antara kerumunan pedagang yang jumlahnya puluhan itu, terlihat seorang gadis bersama ibunya sedang berjualan kolak. Namanya Aisyah. Sekarang Aisyah dan ibunya menjadi Kemenangan Di Tangan Kita Oleh Lukman Umar Kemenangan adalah hal yang ingin diraih dalam suatu kompetisi. Dalam sepak bola kemenangan adalah hal yang diinginkan sebuah tim untuk meraih juara. Di suatu pagi yang cerah di lapangan Vegetarian Oleh M. Ubayyu Rikza Menjadi seorang vegetarian kadang membuatku repot. Ya, begitulah menjadi spesies unik di tengah mayoritas manusia yang menjadi omnivora. Entah aku menjadi salah satu orang yang ditugaskan menjadi penyeimbang dunia, He Is My Brother Oleh Ilham Sullivan Anya membuka pintu kamarnya, kemudian segera berjalan ke depan pintu kamar Axel. Anya menatapnya dengan kesal, kemudian memukul pintu itu dengan keras sampai tangannya sendiri terasa sakit. “Axel! Bisa My Hero Oleh Ayu Sekarningsih Angin pantai memeluk lembut tubuhku, memutar pasir, dan mengibarkan rambut yang kubiarakan bebas tergerai. Bisikan-bisikan lembut angin seakan menelisik jauh ke dalam diriku, mengucapkan salam rindu dari seseorang yang “Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?” "Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan loh, bagaimana dengan kamu?"