Ya Allah anugrahkanlah kepada kami rasa tawakkal yang sebenarnya, Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertawakkal kepadaMu lalu Engkau mencukupkan Aku". Dan seorang hamba harus yakin bahwa tetapnya suatu keadaan dalam satu kondisi yang permanen adalah mustahil. 1 Bertawakal dan bergantung pada Selain Allah. Berdasarkan firman Allah : " dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal jika kamu benar benar orang yang beriman." (Al Maidah :23) "Sesungguhnya Allah telah menolong kamu dibeberapa banyak tempat dan pada peperangan Hunain, tatkala kamu sombong dengan banyaknya jumlah kamu, tetapi Orangyang bertawakal kepada selain Allah SWT termasuk orang yang musyrik. Yaitu mereka yang mempersekutukan Allah baik dalam bentuk I'tikad (kepercayaan), ucapan maupun dalam bentuk amal perbuatan. Jadi, manusia yang bertawakal kepada selain Allah SWT termasuk manusia yang mensekutukan Allah SWT atau musyrik. Terimakasih sudah bertanya di 1NT4cE. Jakarta - Manusia ada yang mampu bangkit dari kegagalan, ada juga yang menyerah. Hal tersebut tentunya sangat erat kaitanya dengan istilah sebenarnya arti dari tawakal? Arti TawakalKata tawakal dalam bahasa Arab توكُل dibaca Tawakkul artinya berserah dan bersabar. Sementara di dalam kamus Umum Bahasa Indonesia KBBI, kata tawakal artinya berserah kepada kehendak Tuhan, dengan sepenuh hati percaya kepada Tuhan terhadap penderitaan, percobaan dan apa pun yang terjadi di dunia pengertian tawakalDi dalam bukunya yang "Pengantar Studi Islam", Amin Syukur menjelaskan tawakal artinya memasrahkan diri kepada Allah. Sementara Abu Nashr As-Siraj Ath-Thusi seperti dikutip dari buku "Risalah Qusyairiyyah" karya Imam Qusairi, menyebutkan bahwa syarat tawakal sebagaimana yang di ungkapkan oleh Abu Turab AnNakhsyabi adalah melepaskan anggota tubuh dalam penghambaan, menggantungkan hati dengan keutuhan, dan bersikap merasa cukup. Ketika dia diberikan sesuatu, maka dia akan mengucapkan syukur sebaliknya, jika tidak maka dia juga pendapat yang mendefinisikan tawakal adalah orang yang senantiasa bersandar kepada Allah SWT bukan kepada yang lain. Orang seperti ini percaya bahwa hanya Allah yang menanggung rizki dan sejumlah arti tawakal di atas, sejumlah pakar menjelaskan dan ini pendapat paling kuat menjelaskan bahwa tawakal adalah menyerahkan segala sesuatu yang dilakukan kepada Allah SWT dengan berusaha ikhtiar, serta berserah sepenuhnya seorang hamba yang beriman, sejatinya seorang muslim haruslah bertawakal kepada Allah SWT. Seperti dalam firman Allah dalam QS. Al-Maidah 23وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَArtinya "Dan hanya kepada Allah-lah kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman".Tawakal merupakan bagian dari tingkatan keimanan kita terhadap Allah SWT. Bahkan, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang masyhur, tawakal bisa dijadikan salah satu sifat, orang-orang yang masuk surga tanpa hisab dan harus disertai dengan ikhtiarTidak hanya berserah diri pada Allah, tawakal juga harus diikuti dengan berusaha dan berdoa, barulah untuk penentuan berhasil atau tidaknya sesuatu yang menentukanya adalah Allah. Yakini bahwa Allah akan memberikan yang terbaik dan memberikan pertolongan bagi hamba-hamba yang patuh dan hamba yang memohon muslim harus berikhtiar yang semaksimal mungkin di segala urusannya. Islam mengajarkan kita untuk tidak boleh bersikap malas dan lemah, bahkan jikalau kita mampu hendaknya untuk saling membantu. erd/erd Kata "tawakal" bagi umat muslim mungkin sudah tidak asing lagi di telinga. Disebutkan berkali-kali di dalam Al-Qur'an, dalam buku-buku islami, juga menjadi topik ceramah bagi para ustadz ustadzah di luar sana membuat kata Tawakal hendaknya sudah dikenal dengan sebagai penambah ilmu, agar kita bisa lebih dalam mengenal konsep tersebut, bukan hanya dari definisi tawakal saja, yuk baca sampai habis artikel ini!ilustrasi orang bertawakal ArapoğluTawakal berasal dari bahasa arab تَوَكُّل yang berarti berserah dan bersabar. Secara lebih mendalam, tawakal diartikan sebagai memercayai dan menggantungkan segala urusan yang dimiliki kepada Allah swt. Kita memahami dan memercayai sepenuhnya bahwa Allah swt adalah satu-satunya yang paling berkuasa, memiliki kemampuan yang tiada duanya, juga yang paling tahu segala yang baik untuk seorang muslim, kita perlu menyadari bahwa segala kemampuan dan kapasitas yang dimiliki sesungguhnya hanyalah sebagian kecil dari kuasa Allah swt. Kita menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang tidak sempurna, yang senantiasa membuat kesalahan, sehingga kita membutuhkan bantuan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Kita mampu melakukan berbagai usaha demi mencapai atau menyelesaikan segala urusan dalam hidup. Namun, usaha saja tidak cukup membuat kita menjadi pribadi yang sukses di dunia maupun di akhirat kelak. Kita membutuhkan kuasa Tuhan agar segala yang kita usahakan mendapatkan berkah dan ganjaran yang sesuai. Secara sederhana, hal tersebutlah yang dikenal dengan Tetap dibarengi usahailustrasi orang berikhtiar AjegbileSeperti yang dijelaskan sebelumnya, tawakal berarti menyadari keterbatasan diri sendiri, sehingga membutuhkan bantuan dari Tuhan Yang Maha Perkasa. Akan tetapi, hal ini tidak boleh menjadi alasan kita memelihara rasa malas karena memercayai bahwa ada Tuhan yang senantiasa mampu menolong. Dalam hidup, kita tetap membutuhkan usaha, entah itu untuk mendapatkan reward tertentu maupun untuk menyelesaikan segala masalah dunia yang membelenggu diri. Tuhan tidak akan ingin membantu hamba-Nya yang tidak melakukan usaha terlebih dahulu. Usaha yang kita lakukan merupakan bentuk ketaatan kita kepada Allah swt atas segala fasilitas yang telah diberikan, sedangkan bertawakal atau berserah diri kepada Allah swt adalah bentuk keimanan kita kepada Allah dalam menjalani hidup di dunia kita membutuhkan dua hal penting, yakni ikhtiar usaha dan tawakal berserah diri kepada Tuhan. Sudahkah kamu berusaha menyeimbangkan keduanya?3. Cara melakukannyailustrasi orang mengaji dapat dilakukan dengan cara mendekatkan diri kepada Allah swt sebagai penolong di kala hati sedang gusar. Orang yang bertawakal berusaha menjalankan segala perintah Allah swt termasuk sunnah-sunnah didalamnya dan menjauhi segala larangan-Nya. Namun, mereka juga menyadari bahwa selain beribadah dibutuhkan usaha nyata untuk mencapai apa yang diinginkan. Sehingga, mereka bukan hanya memperbanyak ibadah, namun juga meningkatkan usaha agar Allah swt ridho dalam membantunya. Tawakal bukan hanya dibutuhkan ketika kamu ingin meraih sesuatu atau menyelesaikan masalah dalam hidup. Namun, tawakal dapat diterapkan di hampir seluruh aspek dalam kehidupan, entah itu ketika mengalami kegagalan, ketika mencari jati diri, ketika ingin mengikuti tes pekerjaan, dan lain sebagainya. Baca Juga Pengertian, Keutamaan, dan Manfaat Tawakal dalam Kehidupan Sehari-hari 4. Manfaat ketika bertawakalilustrasi orang bahagia PiacquadioMereka yang mampu memercaya Allah swt sepenuh hati dan menyandarkan segala urusan kepada-Nya sejatinya adalah orang-orang senantiasa berada dalam jalan kesuksesan dan kemenangan. Mereka akan senantiasa mampu menghadapi segala kemungkinan dalam hidup dengan lebih baik dan lebih positif. Mereka tidak mudah gusar, bersedih hati, stres apalagi menjadi depresi karena kepercayaannya kepada Allah swt mengalahkan segala urusan rumitnya di dunia. Mereka percaya bahwa segala takdir yang telah Tuhan berikan senantiasa adalah hal terbaik, karena Allah swt sejatinya merupakan sebaik-baik penulis skenario kehidupan yang menghadapi kegagalan namun senantiasa mempercayai Allah swt tidak akan berlarut-larut dalam kesedihan. Ia percaya bahwa kegagalan tersebut termasuk salah satu wadah belajar dan bahwa kegagalan itu diberikan karena Allah swt percaya akan kemampuannya menghadapi kegagalan tersebut. Akibatnya, ia dapat menjadikan momen itu sebagai momen untuk lebih meningkatkan usaha serta ibadahnya kepada Allah swt. Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa dengan bertawakal, menyerahkan segala urusan kepada Sang Pencipta, hidup akan jauh lebih tentram dan damai. 5. Tawakal yang keliruilustrasi orang berdoa DanilyukKamu juga harus hati-hati ya dalam menyandarkan segala urusan dalam hidup! Beberapa dari kita mungkin pernah, baik secara sengaja atau pun tidak sengaja justru menganggap segala hal yang terjadi bukan karena kehendak Tuhan. Kita lalai menilai bahwa segala musibah, kesenangan, kesedihan, rezeki dan lain sebagainya sejatinya berasal dari satu sumber, yakni Allah swt. Bentuk tawakal yang keliru dapat berupa menyandarkan segala urusan dan keinginan serta memercayai dengan sepenuh hati kepada selain Allah swt, misalnya menginginkan seorang anak melalui dukun atau ustadz. Hal semacam ini dapat tergolong sebagai perbuatan syirik yang berakibat dosa besar. Bentuk tawakal lainnya yang juga keliru ialah ketika seseorang menganggap bahwa sebuah sebab dalam hidup terjadi semata-mata karena orang lain. Contoh, ketika seorang cancer survivor meyakini kesembuhannya terjadi karena usaha dari para dokter di rumah sakit dan melupakan campur tangan Tuhan. Atau ketika seorang pelajar meyakini nilai bagus yang diperoleh semata-mata akibat guru yang sudah mengajarnya. Keyakinan-keyakinan seperti itu dapat menjadi awal mula kita melupakan kuasa Tuhan. Oleh karena itu, penting sekali untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan menjalankan segala amalan-amalan yang diperintahkan. Agar kita mampu mengingatnya dalam kondisi apa pun sampai sini kamu udah lebih paham bukan tentang konsep tawakal? Baca Juga Pengertian, Keutamaan, dan Manfaat Tawakal dalam Kehidupan Sehari-hari IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis. BERTAWAKAL KEPADA ALLAHOleh Dr. Fadhl IlahiTermasuk di antara sebab diturunkannya rizki adalah bertawakkal kepada Allah Yang Mahaesa dan Yang kepada-Nya tempat bergantung. Insya Allah kita akan membicarakan hal ini melalui tiga hal Dimaksud Bertawakkal Kepada Syar’i Bahwa Bertawakkal Kepada Allah Termasuk Diantara Kunci-Kunci Tawakkal Itu Berarti Meninggalkan Usaha ?APA YANG DIMAKSUD BERTAWAKAL KEPADA ALLAH Para ulama -semoga Allah membalas mereka dengan sebaik-baik balasan- telah menjelaskan makna tawakkal. Diantaranya adalah Imam Al-Ghazali, beliau berkata “Tawakkal adalah penyandaran hati hanya kepada wakil yang ditawakkali semata”[1]Al-Allamah Al-Manawi berkata ”Tawakkal adalah menampakkan kelemahan serta penyandaran diri kepada yang ditawakkali”[2]Menjelaskan makna tawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, Al-Mulla Ali Al-Qari berkata “Hendaknya kalian ketahui secara yakin bahwa tidak ada yang berbuat dalam alam wujud ini kecuali Allah, dan bahwa setiap yang ada, baik mahluk maupun rizki, pemberian atau pelarangan, bahaya atau manfaat, kemiskinan atau kekayaan, sakit atau sehat, hidup atau mati dan segala hal yang disebut sebagai sesuatu yang maujud ada, semuanya itu adalah dari Allah”[3]DALIL SYAR’I BAHWA BERTAWAKAL KEPADA ALLAH TERMASUK KUNCI RIZKI Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Al-Mubarak, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Qudha’i dan Al-Baghawi meriwayatkan dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَ كَّلُوْنَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرُزِقْتُم كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا“Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang“[4].Dalam hadits yang mulia ini, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang berbicara dengan wahyu menjelaskan, orang yang bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya dia akan diberi rizki. Betapa tidak demikian, karena dia telah bertawakkal kepada Dzat Yang Mahahidup, Yang tidak pernah mati. Karena itu, barangsiapa bertawakkal kepadaNya, niscaya Allah akan mencukupinya. Allah مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا“Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki0Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu“[Ath-Thalaq /65 3]Menafsirkan ayat tersebut, Ar-Rabi’ bin Khutsaim mengatakan “Mencukupkan dari setiap yang membuat sempit manusia”[5]APAKAH TAWAKAL ITU BERARTI MENINGGALKAN USAHA? Sebagian orang mungkin ada yang berkata ”Jika orang yang bertawakkal kepada Allah itu akan diberi rizki, maka kenapa kita harus lelah, berusaha dan mencari penghidupan. Bukankah kita cukup duduk-duduk dan bermalas-malasan, lalu rizki kita datang dari langit ?”Perkataan itu sungguh menunjukkan kebodohan orang yang mengucapkannya tentang hakikat tawakkal. Nabi kita yang mulia telah menyerupakan orang yang bertawakkal dan diberi rizki itu dengan burung yang pergi di pagi hari untuk mencari rizki dan pulang pada sore hari, padahal burung itu tidak memiliki sandaran apapun, baik perdagangan, pertanian, pabrik atau pekerjaan tertentu. Ia keluar berbekal tawakkal kepada Allah Yang Mahaesa dan Yang kepadanya tempat bergantung. Dan sungguh para ulama -semoga Allah membalas mereka dengan sebaik-baik kebaikan- telah memperingatkan masalah ini. Di antaranya adalah Imam Ahmad, beliau berkata “Dalam hadits tersebut tidak ada isyarat yang membolehkan meninggalkan usaha, sebaliknya justru di dalamnya ada isyarat yang menunjukkan perlunya mencari rizki. Jadi maksud hadits tersebut, bahwa seandainya mereka bertawakkal kepada Allah dalam bepergian, kedatangan dan usaha mereka, dan mereka mengetahui bahwa kebaikan rizki itu di TanganNya, tentu mereka tidak akan pulang kecuali dalam keadaan mendapatkan harta dengan selamat, sebagaimana burung-burung tersebut”[6]Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang hanya duduk di rumah atau di masjid seraya berkata, Aku tidak mau bekerja sedikitpun, sampai rizkiku datang sendiri’. Maka beliau berkata, Ia adalah laki-laki yang tidak mengenal ilmu. Sungguh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah اللَّهَ جِعَلَ رِزْقِيْ تَحتَ ظِلِّ زُمْحِيْ“Sesungguhnya Allah telah menjadikan rizkiku melalui tombakku”Dan beliau أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَ كَّلُوْنَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرُزِقْتُم كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا“Sekiranya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya Allah meberimu rizki sebagaimana yang diberikanNya kepada burung-burung, berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang“.Dalam hadits tersebut dikatakan, burung-burung itu berangkat pagi-pagi dan pulang sore hari dalam rangka mencari Imam Ahmad berkata, Para sahabat juga berdagang dan bekerja dengan pohon kurmanya. Dan mereka itulah teladan kita.[7]Syaikh Abu Hamid berkata ”Barangkali ada yang mengira bahwa makna tawakkal adalah meninggalkan pekerjaan secara fisik, meninggalkan perencanaan dengan akal serta menjatuhkaan diri di atas tanah seperti sobekan kain yang dilemparkan, atau seperti daging di atas landasan tempat memotong daging. Ini adalah sangkaan orang-orang bodoh. Semua itu adalah haram menurut hukum syari’at. Sedangkan sya’riat memuji orang yang bertawakkal. Lalu, bagaimana mungkin suatu derajat ketinggian dalam agama dapat diperoleh dengan hal-hal yang dilarang oleh agama pula.?Hakikat yang sesungguhnya dalam hal ini dapat kita katakan, Sesungguhnya pengaruh bertawakkal itu tampak dalam gerak dan usaha hamba ketika bekerja untuk mencapai tujuan-tujuannya”.Imam Abul Qasim Al-Qusyairi ”Ketahuilah sesungguhnya tawakkal itu letaknya di dalam hati. Adapun gerak secara lahiriah maka hati itu tidak bertentangan dengan tawakkal yang ada di dalam hati setelah seorang hamba meyakini bahwa rizki itu datangnya dari Allah. Jika terdapat kesulitan, maka hal itu adalah karena takdirNya, dan terdapat kemudahan maka hal itu karena kemudahan dariNya”[8]Diantara yang menunjukkan bahwa tawakkal kepada Allah tidaklah berarti meninggalkan usaha adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Hakim dari Ja’far bin Amr bin Umayah dari ayahnya Radhiyallahu anhu, ia berkata قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرْسِلُ نَاقَتِيْ وَأََتَوَ كُّلُ قَالَ اِغْقِلهَا وَتَوَ كَّلْ“Seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, Aku lepaskan untaku dan lalu aku bertawakkal ?’ Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Ikatlah kemudian bertawakkallah“[9]Dan dalam riwayat Imam Al-Qudha’i عَمْرُو بْنِ أُمَيَّةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قُلْتُ يَا رَسُوْلَّ اللَّةِ ! أُقَيّدُ رَاحِلَتِيْ وَأَتَوَكَّلُ عَلَى اللَّهِ، أَوْأُرْسِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ؟ قَالَ قَيِّدْهَا وَتَوَكَّلْ“Amr bin Umayah Radhiyallahu anhu berkata, Aku bertanya, Wahai Rasulullah !!, Apakah aku ikat dhulu unta tunggangan-ku lalu aku bertawakkal kepada Allah, atau aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal ? Beliau menjawab, Ikatlah kendaraan unta-mu lalu bertawakkallah“[10]Kesimpulan dari pembahasan ini adalah bahwa tawakkal tidaklah berarti meninggalkan usaha. Dan sungguh setiap muslim wajib berpayah-payah, bersungguh-sungguh dan berusaha untuk mendapatkan penghidupan. Hanya saja ia tidak boleh menyandarkan diri pada kelelahan, kerja keras dan usahanya, tetapi ia harus meyakini bahwa segala urusan adalah milik Allah, dan bahwa rizki itu hanyalah dari Dia semata.[Disalin dari kitab Mafatih ar-Rizq fi Dhau’ al-Kitab was-Sunnah, Penulis DR Fadhl Ilahi, Edisi Indonesia Kunci-Kunci Rizki Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, Penerjemah Ainul Haris Arifin, Lc. Penerbit Darul Haq- Jakarta] _______ Footnote [1] Ihya’ Ulumid Din, 4/259 [2] Faidhul Qadir, 5/311 [3] Murqatul Mafatih, 9/156 [4] Al-Musnad, no. 205, 1/243 no. 370, 1/313 no. 373, 1/304; Jami’ut Tirmidzi, Kitabuz Zuhud, Bab Fit Tawakkal Alallah, no. 2344, no 2447, 7/7 dan lafazh ini adalah miliknya ; Sunan Ibni Majah, Abwabuz Zuhd, At-Tawakkul wal Yaqin, no 4216, 2/419; Kitabuz Zuhd oleh Ibnu Al-Mubarak, juz IV, Bab At-Tawakkul wat Tawaddhu’ no. 559, hal 196-197 ; Al-Ihsan fi Taqribi Shahih Ibni Hibban, Kitabur Raqa’iq, Bab Al-Wara’ wat Tawakkul, Dzikrul Akhbar amma Yajibu alal Mar’i min Qath’il Qulubi anil Khala’iqi bi Jami’il Ala’iqi fi Ahwalihi wa Asbabihi no. 730, 2/509 ; Al-Mustadzrak ala Ash-Shahihain, Kitabur Riqaq, 4/318 ; Musnad Asy-Syihab, Lau Annakum Tatawakkaluna ala’ Allah Haqqa Tawakkulihi no. 1444, 2/319 ; Syarhus Sunnah oleh Al-Baghawi, Kitabur Riqaa, Bab At-Tawakkul ala Allah Aza wa Jalla no. 4108, 14/301. Imam At-Tirmidzi berkata, Ini adalah hadits shahih, kami tidak mengatahuinya kecuali dari sisi ini Jami’ut Tirmidzi, 7/8. Imam Al-Hakim berkata, Ini adalah hadits dengan sanad shahih, tetapi tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim Al-Mustadrak ala Ash-Shahihain, 4/318. Imam Al-Baghawi berkata, Ini adalah hadist hasan. Syarhus Sunnah, 14/301. Dan sanadnya dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir. Lihat, Hamisyul Musnad, 1/234. Serta Syaikh Al-Albani menshahihkannya, Lihat, Silsilatul Ahadits Ash-Shahihah no. 310, jilid 1, juz III/12 [5] Syarhus Sunnah, 14/298 [6] Dinukil dari Tuhfatul Ahwadzi, 7/8 [7] Dinukil dari Fathul Bari, 11/305-306 [8] Dinukil dari Murqatul Mafatih, 5/157 [9] Al-Ihsan fi Taqribi Shahih Ibni Hibban, Kitabur Raqa’iq, Bab Al-Warra’ wat Tawakkul, Dzikrul Akhbar bin Annal Mar’a Yajibu Alaihi Ma’a Tawakkulil Qalbi Al-Ihtiraz bil A’dha Dhidda Qauli Man Karihahu, no. 731, 2/510, dan lafazh ini miliknya ; Al-Mustadrak Alash Shahihain, Kitab Ma’rifatish Shahabah, Dzikru Amr bin Umayah Radhiyallahu anhu, 3/623. Al-Hafizh Adz-Dzahabi berkata, Sanad hadist ini jayyid’. At-Talkhis, 3/623. Al-hafizh Al-Haitsami juga menyatakan hal senada dalam Majmau’z Zawa’id wa Manba’ul Fawa’id, 10/303. Beliau berkata, Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari banyak jalan. Dan para pembawa haditsnya adalah pembawa hadits Shahih Muslim selain Ya’kub bin Abdullah bin Amr bin Umayah [10] Musnad asy-Syihab, Qayyid ha wa Tawakkal, edisi 633, 1/368